Kembali ke Artikel
Kehamilan

Preeklampsia: Kenali Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan

5 Mei 20266 menit baca

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan serius yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Kenali gejalanya sejak dini agar bisa ditangani tepat waktu.

Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang paling berbahaya namun sering kali datang tanpa peringatan yang jelas. Kondisi ini terjadi pada sekitar 5–8% kehamilan dan menjadi penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia — termasuk di Indonesia.

Apa Itu Preeklampsia?

Preeklampsia adalah kondisi yang ditandai oleh tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg) yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, disertai tanda-tanda kerusakan organ seperti protein dalam urin, gangguan fungsi hati, atau ginjal.

Kondisi ini berbeda dengan hipertensi kronis yang sudah ada sebelum hamil.

Faktor Risiko

Beberapa kelompok ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi:

  • Kehamilan pertama
  • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Kehamilan kembar
  • Usia ibu >35 tahun atau <20 tahun
  • Obesitas (IMT >30)
  • Riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal
  • Jarak kehamilan >10 tahun dari kehamilan sebelumnya

Gejala yang Harus Diwaspadai

Banyak ibu hamil tidak menyadari preeklampsia karena gejalanya bisa ringan atau tidak terasa. Gejala yang perlu diwaspadai:

  • Tekanan darah ≥140/90 mmHg pada dua pengukuran berbeda
  • Bengkak tiba-tiba di wajah, tangan, atau kaki
  • Sakit kepala hebat yang tidak membaik dengan parasetamol
  • Gangguan penglihatan — pandangan kabur, melihat kilatan cahaya
  • Nyeri ulu hati atau nyeri perut kanan atas
  • Mual dan muntah yang tiba-tiba memburuk di trimester ketiga
  • Berkurangnya frekuensi buang air kecil

Komplikasi Jika Tidak Ditangani

Preeklampsia yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi:

  • Eklampsia — kejang yang mengancam jiwa
  • Sindrom HELLP — kerusakan hati dan gangguan pembekuan darah
  • Solusio plasenta (plasenta terlepas prematur)
  • Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
  • Persalinan prematur
  • Kematian ibu dan janin

Penanganan

Satu-satunya "pengobatan" definitif preeklampsia adalah persalinan. Namun pendekatan penanganan bergantung pada usia kehamilan dan keparahan kondisi:

Jika usia kehamilan <37 minggu

  • Rawat inap untuk pemantauan ketat
  • Obat antihipertensi (nifedipin, metildopa, labetalol)
  • Magnesium sulfat untuk mencegah kejang
  • Kortikosteroid untuk mematangkan paru janin jika persalinan prematur diperlukan

Jika usia kehamilan ≥37 minggu atau kondisi berat

  • Terminasi kehamilan segera (persalinan diinduksi atau SC)

Bisakah Dicegah?

Untuk ibu dengan risiko tinggi, dokter mungkin merekomendasikan aspirin dosis rendah (75–150 mg/hari) mulai usia kehamilan 12–16 minggu. Konsumsi kalsium 1–1,5 gram per hari juga terbukti membantu pada ibu dengan asupan kalsium rendah.


Pemeriksaan antenatal rutin sangat penting untuk mendeteksi preeklampsia sejak dini. Jangan tunda kontrol kehamilan Anda — segera konsultasikan jika tekanan darah Anda meningkat.

dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

Artikel ini ditulis untuk tujuan edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Hubungi dokter untuk penanganan kondisi kesehatan spesifik Anda.

Punya pertanyaan seputar topik ini?

Konsultasikan langsung dengan dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS.

Buat Janji Konsultasi