Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang paling berbahaya, namun sering kali datang tanpa peringatan yang jelas. Kondisi ini terjadi pada sekitar 5–8% kehamilan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia, termasuk di Indonesia. Kabar baiknya, risiko terburuknya dapat ditekan bila tanda preeklampsia dikenali sejak dini dan kontrol kehamilan dilakukan secara rutin.
Baca JugaKapan Harus ke Dokter Fetomaternal? Ini Tanda dan AlasannyaApa Itu Preeklampsia?
Preeklampsia adalah kondisi yang ditandai oleh tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg) yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, disertai tanda-tanda kerusakan organ seperti protein dalam urin serta gangguan fungsi hati atau ginjal. Kondisi ini berbeda dengan hipertensi kronis yang sudah ada sebelum hamil. Karena gejalanya kerap tidak terasa, tekanan darah dan protein urin diperiksa pada setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan.
Siapa yang Berisiko?
Beberapa kelompok ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklampsia:
- Kehamilan pertama
- Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
- Kehamilan kembar
- Usia ibu lebih dari 35 tahun atau kurang dari 20 tahun
- Obesitas (IMT lebih dari 30)
- Riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal
- Jarak kehamilan lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya
Jika Anda termasuk kelompok di atas, sampaikan kepada dokter sejak kunjungan pertama agar pemantauan dapat dilakukan lebih ketat. Memiliki faktor risiko bukan berarti Anda pasti mengalaminya, melainkan perlu kewaspadaan ekstra selama kehamilan.
Tanda Preeklampsia yang Harus Diwaspadai
Banyak ibu hamil tidak menyadari preeklampsia karena gejalanya bisa ringan atau tidak terasa sama sekali. Tanda-tanda berikut perlu diwaspadai:
- Tekanan darah ≥140/90 mmHg pada dua pengukuran berbeda
- Bengkak yang muncul tiba-tiba di wajah, tangan, atau kaki
- Sakit kepala hebat yang tidak membaik dengan obat pereda nyeri
- Gangguan penglihatan — pandangan kabur atau melihat kilatan cahaya
- Nyeri ulu hati atau nyeri perut kanan atas
- Mual dan muntah yang tiba-tiba memburuk di trimester ketiga
- Berkurangnya frekuensi buang air kecil
Munculnya salah satu tanda di atas, apalagi beberapa sekaligus, adalah alasan untuk segera memeriksakan diri — jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya. Jika Anda memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah, catat hasilnya dan bawa saat kontrol ke dokter.
Komplikasi Jika Tidak Ditangani
Preeklampsia yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa:
- Eklampsia — kejang yang mengancam jiwa ibu dan janin
- Sindrom HELLP — kerusakan hati dan gangguan pembekuan darah
- Solusio plasenta, yaitu plasenta terlepas sebelum waktunya
- Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
- Persalinan prematur
- Kematian ibu dan janin
Penanganan
Perlu dipahami sejak awal: satu-satunya "pengobatan" definitif untuk preeklampsia adalah persalinan. Sampai tiba waktunya, penanganan bertujuan mengendalikan tekanan darah dan mencegah kejang agar kehamilan dapat dipertahankan selama mungkin. Keputusan kapan persalinan dilakukan diambil berdasarkan kondisi ibu dan janin secara bersama-sama oleh dokter yang merawat.
Jika Usia Kehamilan Kurang dari 37 Minggu
- Rawat inap untuk pemantauan ketat kondisi ibu dan janin
- Obat antihipertensi untuk mengendalikan tekanan darah
- Magnesium sulfat untuk mencegah kejang
- Kortikosteroid untuk mematangkan paru janin bila persalinan prematur diperlukan
Jika Usia Kehamilan 37 Minggu atau Lebih, atau Kondisi Berat
- Terminasi kehamilan segera, baik melalui persalinan yang diinduksi maupun operasi caesar, demi keselamatan ibu dan bayi
Preeklampsia pada Kehamilan Berikutnya
Bila Anda pernah mengalami preeklampsia, risiko terulang pada kehamilan berikutnya lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak pernah mengalaminya. Namun kabar baiknya, riwayat ini justru membuat pemantauan bisa direncanakan lebih awal dan lebih ketat sejak kunjungan pertama. Sampaikan riwayat lengkap kehamilan sebelumnya kepada dokter kandungan agar jadwal kontrol, pemeriksaan tekanan darah, dan tes laboratorium dapat disesuaikan sejak trimester pertama.
Bisakah Preeklampsia Dicegah?
Preeklampsia tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya dapat ditekan. Untuk ibu dengan risiko tinggi, dokter dapat merekomendasikan aspirin dosis rendah yang dimulai sejak usia kehamilan 12–16 minggu. Suplementasi kalsium juga membantu pada ibu dengan asupan kalsium rendah. Keduanya hanya digunakan atas petunjuk dokter — jangan mengonsumsi sendiri tanpa evaluasi risiko terlebih dahulu.
Langkah lain yang tidak kalah penting adalah menjaga berat badan ideal sebelum hamil, mengendalikan tekanan darah dan gula darah, serta rutin menjalani pemeriksaan antenatal. Pemeriksaan kehamilan yang teratur adalah kunci mendeteksi preeklampsia sejak dini. Jangan tunda kontrol kehamilan Anda — segera konsultasikan dengan dokter kandungan bila tekanan darah meningkat atau muncul tanda-tanda bahaya di atas.





