Kembali ke Artikel
Kehamilan

Preeklampsia: Kenali Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan

5 Mei 20264 menit baca
dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS
dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS

Spesialis Obstetri & Ginekologi

Preeklampsia: Kenali Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan serius yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Kenali gejalanya sejak dini agar bisa ditangani tepat

Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang paling berbahaya, namun sering kali datang tanpa peringatan yang jelas. Kondisi ini terjadi pada sekitar 5–8% kehamilan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia, termasuk di Indonesia. Kabar baiknya, risiko terburuknya dapat ditekan bila tanda preeklampsia dikenali sejak dini dan kontrol kehamilan dilakukan secara rutin.

Baca JugaKapan Harus ke Dokter Fetomaternal? Ini Tanda dan Alasannya

Apa Itu Preeklampsia?

Preeklampsia adalah kondisi yang ditandai oleh tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg) yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, disertai tanda-tanda kerusakan organ seperti protein dalam urin serta gangguan fungsi hati atau ginjal. Kondisi ini berbeda dengan hipertensi kronis yang sudah ada sebelum hamil. Karena gejalanya kerap tidak terasa, tekanan darah dan protein urin diperiksa pada setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan.

Siapa yang Berisiko?

Beberapa kelompok ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklampsia:

  • Kehamilan pertama
  • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Kehamilan kembar
  • Usia ibu lebih dari 35 tahun atau kurang dari 20 tahun
  • Obesitas (IMT lebih dari 30)
  • Riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal
  • Jarak kehamilan lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya

Jika Anda termasuk kelompok di atas, sampaikan kepada dokter sejak kunjungan pertama agar pemantauan dapat dilakukan lebih ketat. Memiliki faktor risiko bukan berarti Anda pasti mengalaminya, melainkan perlu kewaspadaan ekstra selama kehamilan.

Tanda Preeklampsia yang Harus Diwaspadai

Banyak ibu hamil tidak menyadari preeklampsia karena gejalanya bisa ringan atau tidak terasa sama sekali. Tanda-tanda berikut perlu diwaspadai:

  • Tekanan darah ≥140/90 mmHg pada dua pengukuran berbeda
  • Bengkak yang muncul tiba-tiba di wajah, tangan, atau kaki
  • Sakit kepala hebat yang tidak membaik dengan obat pereda nyeri
  • Gangguan penglihatan — pandangan kabur atau melihat kilatan cahaya
  • Nyeri ulu hati atau nyeri perut kanan atas
  • Mual dan muntah yang tiba-tiba memburuk di trimester ketiga
  • Berkurangnya frekuensi buang air kecil

Munculnya salah satu tanda di atas, apalagi beberapa sekaligus, adalah alasan untuk segera memeriksakan diri — jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya. Jika Anda memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah, catat hasilnya dan bawa saat kontrol ke dokter.

Komplikasi Jika Tidak Ditangani

Preeklampsia yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa:

  • Eklampsia — kejang yang mengancam jiwa ibu dan janin
  • Sindrom HELLP — kerusakan hati dan gangguan pembekuan darah
  • Solusio plasenta, yaitu plasenta terlepas sebelum waktunya
  • Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
  • Persalinan prematur
  • Kematian ibu dan janin

Penanganan

Perlu dipahami sejak awal: satu-satunya "pengobatan" definitif untuk preeklampsia adalah persalinan. Sampai tiba waktunya, penanganan bertujuan mengendalikan tekanan darah dan mencegah kejang agar kehamilan dapat dipertahankan selama mungkin. Keputusan kapan persalinan dilakukan diambil berdasarkan kondisi ibu dan janin secara bersama-sama oleh dokter yang merawat.

Jika Usia Kehamilan Kurang dari 37 Minggu

  • Rawat inap untuk pemantauan ketat kondisi ibu dan janin
  • Obat antihipertensi untuk mengendalikan tekanan darah
  • Magnesium sulfat untuk mencegah kejang
  • Kortikosteroid untuk mematangkan paru janin bila persalinan prematur diperlukan

Jika Usia Kehamilan 37 Minggu atau Lebih, atau Kondisi Berat

  • Terminasi kehamilan segera, baik melalui persalinan yang diinduksi maupun operasi caesar, demi keselamatan ibu dan bayi

Preeklampsia pada Kehamilan Berikutnya

Bila Anda pernah mengalami preeklampsia, risiko terulang pada kehamilan berikutnya lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak pernah mengalaminya. Namun kabar baiknya, riwayat ini justru membuat pemantauan bisa direncanakan lebih awal dan lebih ketat sejak kunjungan pertama. Sampaikan riwayat lengkap kehamilan sebelumnya kepada dokter kandungan agar jadwal kontrol, pemeriksaan tekanan darah, dan tes laboratorium dapat disesuaikan sejak trimester pertama.

Bisakah Preeklampsia Dicegah?

Preeklampsia tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya dapat ditekan. Untuk ibu dengan risiko tinggi, dokter dapat merekomendasikan aspirin dosis rendah yang dimulai sejak usia kehamilan 12–16 minggu. Suplementasi kalsium juga membantu pada ibu dengan asupan kalsium rendah. Keduanya hanya digunakan atas petunjuk dokter — jangan mengonsumsi sendiri tanpa evaluasi risiko terlebih dahulu.

Langkah lain yang tidak kalah penting adalah menjaga berat badan ideal sebelum hamil, mengendalikan tekanan darah dan gula darah, serta rutin menjalani pemeriksaan antenatal. Pemeriksaan kehamilan yang teratur adalah kunci mendeteksi preeklampsia sejak dini. Jangan tunda kontrol kehamilan Anda — segera konsultasikan dengan dokter kandungan bila tekanan darah meningkat atau muncul tanda-tanda bahaya di atas.

Pertanyaan Umum

Apakah preeklampsia bisa dicegah?+

Tidak sepenuhnya, tetapi risikonya dapat ditekan. Pada ibu hamil dengan risiko tinggi, dokter dapat memberikan aspirin dosis rendah sejak usia kehamilan 12–16 minggu. Menjaga berat badan ideal, mengendalikan tekanan darah, dan rutin kontrol kehamilan juga sangat membantu.

Apakah kaki bengkak saat hamil berarti preeklampsia?+

Belum tentu. Bengkak ringan di kaki dan pergelangan pada trimester akhir adalah hal yang umum pada kehamilan. Yang perlu diwaspadai adalah bengkak yang muncul tiba-tiba di wajah dan tangan, apalagi bila disertai tekanan darah tinggi.

Apakah preeklampsia bisa terjadi lagi pada kehamilan berikutnya?+

Bisa. Wanita dengan riwayat preeklampsia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya, sehingga membutuhkan pemantauan yang lebih ketat sejak awal kehamilan.

Tekanan darah berapa yang dianggap berbahaya pada ibu hamil?+

Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu perlu segera dievaluasi, terlebih bila disertai sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, atau nyeri ulu hati. Jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya.

Bagikan Artikel

dr. Christian Wijaya Woen

dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS

Spesialis Obstetri & Ginekologi · Praktik di Jakarta

Artikel ini ditulis berdasarkan keahlian klinis dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Hubungi dokter untuk penanganan kondisi kesehatan spesifik Anda.

Lihat profil lengkap →

Punya pertanyaan seputar topik ini?

Konsultasikan langsung dengan dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS.

Buat Janji via WhatsApp

Artikel Terkait