Kembali ke Artikel
Kehamilan

Kapan Harus ke Dokter Fetomaternal? Ini Tanda dan Alasannya

8 Juli 20265 menit baca
dr. Christian Wijaya Woen
dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS

Spesialis Obstetri & Ginekologi

Kapan ibu hamil perlu ke dokter fetomaternal? Kenali 10 kondisi yang mengharuskan rujukan ke subspesialis kedokteran fetomaternal (KFM) dan alasan medisnya

Banyak ibu hamil menunda konsultasi ke dokter fetomaternal karena menganggap kondisinya "belum terlalu parah." Padahal, semakin dini kondisi berisiko terdeteksi, semakin banyak pilihan tata laksana yang tersedia. Beberapa alasan utamanya:

  • Deteksi dini mengubah rencana penanganan. Kelainan yang ditemukan pada trimester kedua, misalnya, masih memungkinkan perencanaan tata laksana atau bahkan intervensi tertentu sebelum lahir.
  • Persalinan dapat direncanakan lebih matang. Pada kasus seperti plasenta akreta atau kembar TTTS, tempat, waktu, dan tim yang menangani persalinan perlu dipersiapkan jauh hari.
  • Koordinasi lintas disiplin lebih terarah. Dokter fetomaternal terbiasa bekerja sama dengan dokter anak (neonatologi), dokter jantung, atau dokter penyakit dalam untuk kasus kompleks.
  • Mengurangi risiko komplikasi berat. Pemantauan ketat menurunkan risiko kegawatan mendadak baik pada ibu maupun janin.

Kapan Sebaiknya Konsultasi, Bukan Menunggu Gejala Berat?

Idealnya, ibu hamil tidak perlu menunggu sampai muncul gejala berat untuk berkonsultasi. Beberapa tanda yang sebaiknya segera dibicarakan dengan dokter kandungan agar dapat dirujuk lebih awal ke dokter fetomaternal antara lain:

  • Riwayat penyakit kronis sebelum hamil
  • Riwayat kehamilan sebelumnya yang bermasalah
  • Hasil USG atau laboratorium yang disebut "perlu evaluasi lanjutan"
  • Kehamilan melalui program bayi tabung (IVF)
  • Gerakan janin yang dirasakan berkurang secara signifikan Jika salah satu kondisi di atas berlaku, sebaiknya sampaikan kepada dokter kandungan sejak kunjungan awal agar rujukan dapat dilakukan tepat waktu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah semua ibu hamil perlu ke dokter fetomaternal? Tidak. Sebagian besar kehamilan tergolong risiko rendah dan cukup ditangani oleh dokter kandungan umum. Rujukan ke dokter fetomaternal dilakukan jika ditemukan faktor risiko tertentu.

Apakah pemeriksaan fetomaternal menggantikan kontrol kehamilan rutin? Tidak. Pemeriksaan fetomaternal biasanya melengkapi, bukan menggantikan, kontrol kehamilan rutin dengan dokter kandungan.

Di trimester berapa sebaiknya konsultasi fetomaternal dilakukan? Tergantung indikasinya. Beberapa kondisi perlu dievaluasi sejak trimester pertama, sementara kondisi lain seperti IUGR biasanya baru terlihat pada trimester kedua atau ketiga.

Apakah USG fetomaternal berbeda dari USG kehamilan biasa? Ya. USG fetomaternal umumnya lebih detail, mencakup evaluasi anatomi janin secara menyeluruh, penilaian Doppler aliran darah, dan kadang ekokardiografi jantung janin.


Kesimpulan

Konsultasi ke dokter fetomaternal bukan tanda bahwa kehamilan pasti bermasalah, melainkan langkah pencegahan agar kehamilan berisiko dapat dipantau dan ditangani dengan lebih optimal. Bila terdapat faktor risiko seperti yang dijelaskan di atas, diskusikan dengan dokter kandungan mengenai perlunya rujukan lebih awal ke dokter subspesialis fetomaternal.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Untuk evaluasi kondisi kehamilan secara individual, silakan berkonsultasi dengan dokter kandungan atau dokter fetomaternal.

dr. Christian Wijaya Woen

dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS

Spesialis Obstetri & Ginekologi · Praktik di Jakarta

Artikel ini ditulis berdasarkan keahlian klinis dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Hubungi dokter untuk penanganan kondisi kesehatan spesifik Anda.

Lihat profil lengkap →

Punya pertanyaan seputar topik ini?

Konsultasikan langsung dengan dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG, FICS.

Buat Janji via WhatsApp